
Pada November 2011, UNESCO memasukkan Tari Saman ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak. Bukan kategori biasa di antara daftar UNESCO, karena status “perlindungan mendesak” berbeda dari sekadar “warisan yang diakui”. Ia berarti UNESCO menilai tradisi ini menghadapi risiko kepunahan yang nyata jika tidak ada intervensi aktif. Alasannya spesifik: jumlah pelatih Saman yang memahami syair-syair berbahasa Gayo beserta maknanya semakin sedikit, dan generasi muda Gayo yang belajar Saman sering hanya mempelajari gerakannya tanpa mengerti satu kata pun dari yang mereka nyanyikan.
Ironi itu penting untuk dipahami sebelum melihat pertunjukan Saman. Yang tampak di panggung, puluhan penari duduk berbanjar memukul dada, bertepuk tangan, dan menggelengkan kepala dalam kecepatan yang terasa mustahil untuk tetap serempak, adalah lapisan paling luar dari sesuatu yang jauh lebih dalam.
Asal-usul dari tanah Gayo
Saman berasal dari Dataran Tinggi Gayo, wilayah pegunungan di tengah Provinsi Aceh yang dihuni oleh suku Gayo. Wilayah ini mencakup Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah, berada di ketinggian 200 sampai 2.600 meter di atas permukaan laut, dan secara geografis terpisah dari pesisir Aceh yang lebih dikenal luas.
Suku Gayo punya bahasa, adat, dan sistem sosial yang berbeda dari Aceh pesisir. Bahasa Gayo adalah bahasa Austronesia yang tidak saling dimengerti dengan bahasa Aceh. Perbedaan ini relevan untuk memahami Saman karena syair-syair yang dinyanyikan dalam pertunjukan Saman adalah bahasa Gayo, bukan bahasa Aceh atau bahasa Indonesia.
Nama “Saman” berasal dari Syekh Saman, ulama penyebar Islam di tanah Gayo pada abad ke-14 atau ke-15. Tanggal pastinya tidak bisa dipastikan karena sumber tertulis dari periode itu sangat terbatas. Yang bisa dikonfirmasi adalah bahwa Saman dalam bentuk awalnya adalah bagian dari dakwah Islam, menggunakan seni gerak dan syair untuk menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat yang lebih mudah menerima ajaran melalui pertunjukan daripada ceramah.
Dalam bentuk tertua yang bisa ditelusuri, Saman dimainkan oleh laki-laki saja, duduk di atas tanah, pada malam-malam peringatan kelahiran Nabi Muhammad (Maulid Nabi) dan perayaan panen. Tidak ada panggung, tidak ada kostum khusus, tidak ada penonton dalam pengertian modern. Peserta dan penonton adalah orang yang sama, bergantian tampil dalam kelompok berbeda.
Apa yang dinyanyikan dan apa artinya
Syair Saman terdiri dari beberapa lapisan teks yang berbeda fungsinya. Lapisan pertama adalah rengum, senandung pembuka yang dilakukan oleh satu penari sebelum seluruh kelompok masuk. Rengum tidak mengandung kata-kata, hanya vokal yang berfungsi menetapkan nada dan konsentrasi kolektif.
Lapisan berikutnya adalah dering, seruan yang mengajak semua penari masuk secara serempak. Dari dering, Saman bergerak ke bagian utama yang disebut redet, yaitu bait-bait syair yang dinyanyikan bersama. Syair redet dalam Saman tradisional memuat pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad, nasihat moral, nilai-nilai adat Gayo tentang gotong royong dan kebersamaan, dan kadang pesan sosial yang relevan dengan konteks pertunjukan.
Satu bait syair yang sering dikutip dalam literatur tentang Saman berbunyi kira-kira: “Inen mayak, si gere i tengon-tengon ate, masa mude masa mejule, masa tue masa meninge.” Terjemahan bebasnya: “Ibu, yang tidak diperhatikan hati, di masa muda masa bermain, di masa tua masa merenungkan.” Pesan tentang penyesalan dan penghormatan kepada orang tua, disampaikan dalam metafora bahasa Gayo yang tidak terasa didaktis karena ritmisnya melebur ke dalam gerakan.
Masalah yang diidentifikasi UNESCO adalah bahwa penari muda Gayo dan hampir semua penari di luar Gayo yang membawakan Saman di festival dan kompetisi tidak memahami lapisan teks ini. Mereka menghafal bunyi syairnya tanpa mengerti maknanya, seperti menyanyi dalam bahasa yang tidak dikenal.
Formasi dan gerakan: logika di balik kecepatan
Penari Saman duduk berlutut dalam satu baris atau beberapa baris sejajar menghadap penonton. Kaki terlipat ke belakang, tubuh tegak, dan seluruh gerakan berpusat pada kepala, leher, dada, dan tangan. Kaki tidak bergerak sama sekali selama pertunjukan.
Gerakan dasar Saman terdiri dari enam elemen: tepuk dada (menepuk dada sendiri), tepuk tangan (bertepuk), gelek (anggukan kepala ke samping), kirep (gerakan bahu), lingang (goyangan badan ke kiri dan kanan), dan surang-saring (gerakan tangan menyilang). Keenam elemen ini dikombinasikan dalam pola yang berubah mengikuti irama syair, dengan tempo yang biasanya dimulai lambat dan terus dipercepat sampai mencapai puncaknya di bagian akhir.
Yang membuat Saman terlihat mustahil secara visual adalah sinkronisasi antara puluhan penari tanpa ada konduktor yang terlihat. Tidak ada aba-aba dari orang yang berdiri di pinggir. Tidak ada hitungan yang bisa didengar. Sinyal perpindahan gerakan datang dari syekh, penari yang duduk di tengah barisan, melalui perubahan kecil pada syair atau ritme tepuknya yang harus direspons oleh semua penari lain secara bersamaan.
Kemampuan membaca sinyal syekh ini yang membedakan penari Saman yang sudah lama berlatih dari yang baru. Pemula bisa menghafal gerakan. Tapi membaca perubahan sinyal secara real-time, dalam kecepatan tinggi, sambil tetap menyanyikan syair dengan benar, membutuhkan jam latihan yang jauh lebih banyak.
Jumlah penari dalam satu kelompok Saman tidak ada aturan baku yang berlaku universal, tapi pertunjukan festival biasanya melibatkan antara 10 sampai 60 orang. Rekor pertunjukan Saman massal pernah dicatat dengan ribuan penari tampil bersamaan dalam peringatan hari besar di Aceh, tapi dalam konteks seperti itu sinkronisasi yang menjadi inti Saman tradisional sudah sangat sulit dijaga.
Kostum dan warnanya
Kostum Saman menggunakan warna-warna kontras yang terlihat jelas dari jarak jauh, penting untuk pertunjukan yang mengandalkan kerapian visual. Baju standar Saman adalah baju kerawang, kemeja lengan panjang dengan sulaman motif geometris di kerah, lengan, dan dada. Sulaman ini menggunakan benang berwarna merah, kuning, hijau, dan putih di atas kain hitam atau kain gelap.
Di kepala, penari laki-laki mengenakan tengkuluk, kain bermotif yang dilipat dan diikat dengan cara tertentu. Penari perempuan dalam perkembangan modern Saman menggunakan penutup kepala yang disesuaikan dengan ketentuan busana muslim. Sarung bermotif Gayo dikenakan di bagian bawah.
Warna-warna dalam kostum Saman punya makna dalam sistem nilai Gayo: hitam mewakili kematangan dan kewibawaan, merah untuk keberanian, kuning untuk keagungan, dan putih untuk kesucian. Tapi seperti banyak makna simbolis dalam tradisi yang sudah berusia ratusan tahun, pengetahuan tentang makna warna ini tidak selalu dipegang oleh penari yang memakainya.
Kostum kelompok yang tampil di kompetisi sering kali lebih seragam dan lebih cerah dari kostum yang digunakan dalam Saman komunitas. Ini bukan penipuan visual; ia mencerminkan dua konteks yang berbeda. Saman kompetisi dirancang untuk terlihat baik dari jarak jauh di bawah lampu panggung, sementara Saman komunitas lebih mengutamakan kenyamanan dan kesesuaian dengan konteks ritual. Perbedaan ini sering luput dari pengamat luar yang menyamakan satu bentuk tampilan dengan yang lain.
Pengakuan UNESCO 2011 dan dampaknya
Proses pencalonan Saman ke UNESCO dimulai jauh sebelum 2011. Pemerintah Indonesia mengajukan Saman sebagai bagian dari upaya sistematis mendaftarkan warisan budaya takbenda sejak Indonesia meratifikasi Konvensi UNESCO 2003 tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda.
Keputusan UNESCO untuk menempatkan Saman dalam daftar “perlindungan mendesak” bukan penghargaan sederhana. Ia datang dengan kewajiban: pemerintah Indonesia diminta menyusun rencana pengamanan yang mencakup dokumentasi sistematis syair-syair Gayo, program pelatihan untuk meregenerasi guru-guru Saman yang memahami tradisi secara utuh, dan mekanisme untuk memastikan komunitas Gayo sendiri yang memegang kendali atas tradisi ini, bukan festival atau institusi di luar komunitas.
Sejak 2011, beberapa program dokumentasi sudah berjalan. Dinas Kebudayaan Aceh dan lembaga seperti Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh terlibat dalam perekaman syair dan pelatihan guru. Tapi kondisi seperti yang dikhawatirkan UNESCO, yaitu terputusnya pengetahuan tentang makna syair dari praktik gerak, masih menjadi tantangan nyata lebih dari satu dekade setelah pengakuan itu diberikan.
Di mana menyaksikan Saman
Pertunjukan Tari Saman Aceh yang paling kontekstual bisa disaksikan di Kabupaten Gayo Lues, khususnya di sekitar Blangkejeren, ibu kota kabupaten. Peringatan hari besar Islam, pernikahan adat Gayo, dan festival seni daerah adalah waktu paling mungkin untuk menyaksikan Saman dalam konteks komunitasnya.
Di luar Gayo, Saman ditampilkan secara reguler di Banda Aceh selama Festival Saman yang digelar setiap tahun, biasanya bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Gayo Lues pada 4 November. Festival ini menarik kelompok Saman dari berbagai kabupaten dan menjadi ajang kompetisi sekaligus pertunjukan publik.
Di Yogyakarta dan Jakarta, kelompok mahasiswa Aceh yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Aceh (IPMA) atau organisasi serupa sering menampilkan Saman di acara budaya kampus dan festival daerah. Kualitas dan kedalaman penguasaan syairnya bervariasi, tapi untuk melihat gerakan Saman dalam format yang bisa diakses, ini adalah pilihan yang tersedia tanpa harus pergi ke Aceh.
“Saman bukan sekadar menari. Ia adalah cara kami berdoa, berbicara, dan menjadi satu.”
Ungkapan ini sering dikutip dari tokoh adat Gayo dalam berbagai dokumentasi kebudayaan sebagai ringkasan dari apa yang hilang ketika Saman dipelajari hanya sebagai tari.
Yang tersisa dan yang harus dijaga
Gerakan Saman bisa diajarkan dalam beberapa minggu. Sinkronisasi bisa dicapai dengan latihan yang cukup. Tapi pengetahuan tentang syair-syair Gayo, tentang konteks sosial di mana masing-masing bait dinyanyikan, tentang kapan menggunakan jenis redet tertentu dan mengapa, itu yang tidak bisa dipelajari dari video YouTube atau buku panduan.
Komunitas Gayo yang masih memegang pengetahuan itu rata-rata berusia di atas 60 tahun. Program dokumentasi sudah berjalan, tapi mendokumentasikan tidak sama dengan mewariskan. Saman yang hidup di dalam komunitas berbeda dari Saman yang tersimpan dalam arsip digital, meski arsip itu penting.
Yang menarik dari situasi ini adalah bahwa popularitas Saman di luar Gayo, yang dulu dianggap ancaman terhadap keasliannya, sekarang menjadi salah satu argumen untuk menarik perhatian dan dana ke program pelestariannya. Saman yang terkenal lebih mudah mendapat dukungan dari pemerintah dan lembaga budaya daripada Saman yang tidak dikenal. Tapi popularitas itu sendiri tidak bisa menggantikan apa yang perlu dijaga dari dalam.
Kata kunci: tari saman Aceh, tari saman UNESCO, sejarah tari saman, gerakan tari saman, tari saman Gayo, tari saman warisan budaya