Tekan tombol ESC untuk menutup

Gamelan Jawa: Sejarah, Instrumen, dan Cara Belajar Memainkannya

Pada tahun 1889, komposer Prancis Claude Debussy mendengar gamelan Jawa untuk pertama kali di Pameran Dunia Paris. Ia kembali mendengarnya berkali-kali selama pameran berlangsung, dan beberapa tahun kemudian unsur-unsur yang ia pelajari dari gamelan, yaitu tangga nada pentatonik, tekstur berlapis yang tidak bergantung pada harmoni Barat, dan cara melodi bekerja secara simultan di lapisan berbeda, muncul dalam karya-karyanya seperti La cathédrale engloutie dan Pagodes. Debussy tidak pernah menyebut pengaruh itu secara eksplisit, tapi musikolog sudah lama mencatat kemiripannya.

Gamelan bukan instrumen tunggal. Ia adalah ansambel, sebuah set instrumen yang dirancang untuk dimainkan bersama dan tidak masuk akal secara musikal jika dipisahkan. Satu set gamelan lengkap bisa terdiri dari 20 sampai 80 instrumen tergantung jenisnya, dan biasanya dimiliki secara kolektif oleh kraton, desa, atau lembaga, bukan perorangan, karena harganya mencapai ratusan juta rupiah untuk satu set lengkap yang dikerjakan oleh empu gamelan berpengalaman.

Dari mana gamelan berasal

Prasasti Tuk Mas dari abad ke-7 yang ditemukan di Magelang, Jawa Tengah, menyebut sejumlah instrumen musik yang diidentifikasi sebagai pendahulu gamelan. Relief candi Borobudur yang selesai dibangun sekitar tahun 825 Masehi menggambarkan berbagai instrumen perkusi dan tiup yang dimainkan bersama dalam ensembel, termasuk bentuk gong dan kendang yang bisa dikenali.

Ini berarti tradisi memainkan instrumen perkusi perunggu secara kolektif di Jawa sudah berlangsung lebih dari 1.200 tahun. Gamelan yang ada sekarang adalah hasil perkembangan panjang dari tradisi itu, dengan banyak perubahan bentuk, penambahan instrumen, dan variasi antardaerah yang terjadi sepanjang abad.

Kata “gamelan” berasal dari bahasa Jawa gamel, yang merujuk pada jenis palu atau pemukul. Cara memainkan sebagian besar instrumen gamelan memang dengan memukul, baik menggunakan tabuh (pemukul kayu atau karet) maupun dengan tangan secara langsung.

Dalam mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru, dewa tertinggi dalam kepercayaan Hindu-Buddha Jawa, untuk memanggil para dewa dan mengatur alam semesta. Gong pertama diciptakan sebagai sinyal, dan dari gong berkembanglah instrumen-instrumen lain. Narasi mitologis ini bukan hanya cerita. Ia menjelaskan mengapa gamelan sampai sekarang masih dianggap pusaka yang punya kekuatan spiritual, bukan sekadar alat musik.

Satu set gamelan yang baik diberi nama dan diperlakukan seperti entitas yang perlu dihormati. Di kraton Yogyakarta dan Surakarta, gamelan pusaka tertentu hanya dimainkan pada hari-hari tertentu dalam setahun, didampingi sesaji, dan tidak sembarang orang boleh memainkannya.

Tiga belas instrumen utama gamelan Jawa

Set gamelan Jawa standar terdiri dari puluhan instrumen, tapi ada 13 instrumen yang selalu hadir dalam hampir semua konteks dan masing-masing memiliki peran spesifik dalam struktur musik gamelan.

Gong ageng

Gong terbesar dalam set gamelan, berdiameter bisa mencapai 90 sentimeter, dan bunyinya yang dalam dan panjang berfungsi sebagai penanda akhir satu siklus melodi utama (gongan). Dalam logika musik gamelan, gong ageng adalah titik yang paling berat secara musikal, titik resolusi yang dituju oleh semua instrumen lain dalam satu siklus.

Membuat gong ageng berkualitas adalah keahlian yang dipegang oleh sedikit empu di Jawa. Proses penempaan satu gong bisa memakan waktu berhari-hari dan melibatkan campuran perunggu dengan komposisi timah dan tembaga tertentu yang berbeda-beda menurut tradisi masing-masing empu. Resonansi gong yang baik harus terasa di dada, bukan hanya di telinga.

Gong suwukan dan kempul

Gong suwukan lebih kecil dari gong ageng dan berfungsi sebagai penanda tengah siklus. Kempul adalah gong-gong kecil yang digantung sejajar, masing-masing bernada berbeda, dan berfungsi sebagai aksen ritmis yang lebih sering dari gong ageng.

Kenong

Kenong adalah gong horizontal yang diletakkan di atas tali di dalam kotak kayu. Bunyinya lebih nyaring dan terdefinisi dibandingkan gong gantung. Ia memukul pada titik-titik tertentu dalam siklus yang berada di antara ketukan gong ageng, memberi struktur pada bagian tengah frasa.

Bonang barung dan bonang penerus

Bonang adalah set pot-gong kecil yang diletakkan horizontal di atas rangka kayu dalam dua baris. Bonang barung memainkan melodi yang lebih lambat, sementara bonang penerus memainkan ornamentasi lebih cepat dari bonang barung, biasanya dalam kecepatan dua kali lipatnya. Kedua instrumen ini sering dimainkan oleh pemain berpengalaman karena variasi ornamentasinya membutuhkan keputusan musikal yang konstan selama pertunjukan.

Saron demung, saron barung, dan saron panerus

Saron adalah bilah logam yang diletakkan di atas kotak resonansi. Tiga jenis saron dibedakan oleh ukuran dan rentang nadanya: demung adalah yang terbesar dan paling rendah nadanya, barung di tengah, dan panerus yang paling kecil memainkan melodi tiga kali lebih cepat dari demung. Ketiganya bersama-sama membentuk lapisan melodi utama yang paling jelas terdengar oleh pendengar awam.

Cara meredam bunyi saron setelah dipukul adalah keterampilan tersendiri: jari yang tidak memukul langsung menekan bilah yang baru saja dibunyikan untuk menghentikan resonansinya tepat sebelum bilah berikutnya dipukul. Teknik ini disebut ditabuh ditutup, dan tanpanya bunyi saron akan saling menumpuk menjadi kekacauan nada.

Slenthem

Slenthem adalah bilah logam dengan resonator bambu atau logam di bawahnya, menghasilkan nada yang lebih berat dan bergema panjang dari saron. Ia memainkan melodi dasar dengan tempo paling lambat dari semua instrumen bilah, satu nada per ketukan gong dalam banyak kasus.

Gender barung dan gender panerus

Gender mirip slenthem tapi bilahnya lebih tipis dan resonatornya lebih panjang, menghasilkan suara yang lebih halus dan bisa bergetar lebih lama. Pemain gender menggunakan dua tabuh sekaligus, satu di setiap tangan, dan bisa memainkan dua melodi berbeda secara simultan. Gender termasuk instrumen yang paling sulit dikuasai dalam gamelan karena teknik dua tangan yang independen ini membutuhkan latihan bertahun-tahun.

Gambang

Gambang adalah xilofon kayu dengan 17 sampai 21 bilah. Suaranya lebih cerah dan kering dibandingkan instrumen logam. Gambang biasanya memainkan ornamentasi cepat di atas melodi utama, mengisi tekstur dengan getaran cepat yang disebut gembyang atau kempyung.

Rebab

Rebab adalah alat musik gesek berdawai dua yang masuk ke gamelan melalui pengaruh musik Islam dari Persia dan Arab. Ia adalah satu-satunya instrumen gesek dalam set gamelan standar dan berfungsi sebagai panduan melodi vokal, sering kali memimpin perpindahan dari satu bagian ke bagian lain. Pemain rebab yang baik adalah pemimpin musikal yang tidak resmi dalam ansambel.

Kendang

Kendang adalah drum dua sisi yang dimainkan dengan tangan. Ia adalah instrumen yang mengatur tempo dan memberi sinyal perpindahan antarbagian. Dalam gamelan, kendang berfungsi seperti konduktor orkestra, tapi tanpa tongkat dan tanpa berdiri. Pemain kendang duduk bersama pemain lain, dan sinyal yang ia berikan kadang sangat halus sehingga hanya pemain berpengalaman yang bisa membacanya.

Suling

Suling adalah seruling bambu yang memainkan ornamentasi melodis di atas tekstur keseluruhan ansambel. Cara memainkan suling gamelan Jawa berbeda dari suling pada umumnya: nada dihasilkan dengan meniup ke lubang di sisi suling, bukan di ujungnya, menghasilkan karakter suara yang lebih lunak dan sedikit melankolis.

Tangga nada: slendro dan pelog

Gamelan Jawa tidak menggunakan tangga nada diatonis (do re mi fa sol la si) yang umum dalam musik Barat. Ia menggunakan dua sistem tangga nada tersendiri: slendro dan pelog.

Slendro membagi satu oktaf menjadi lima nada yang jaraknya kira-kira sama, menghasilkan karakter yang terasa terus berputar tanpa resolusi yang tajam. Pelog membagi satu oktaf menjadi tujuh nada dengan jarak yang tidak sama, menghasilkan karakter yang lebih tegang dan kadang terasa tidak stabil di telinga yang terbiasa dengan musik Barat.

Satu set gamelan lengkap biasanya memiliki dua perangkat instrumen, satu untuk slendro dan satu untuk pelog, karena instrumen yang sudah disetel untuk slendro tidak bisa dimainkan dalam pelog dan sebaliknya. Ini yang membuat satu set gamelan lengkap membutuhkan tempat yang sangat besar dan biaya yang sangat tinggi.

Perbedaan gamelan Jawa dan gamelan Bali

a close-up of a chess board

Gamelan Jawa dan gamelan Bali berasal dari akar yang sama tapi berkembang menjadi dua tradisi yang terdengar sangat berbeda.

Gamelan Jawa cenderung lebih lambat, lebih halus, dan lebih meditatif. Dinamikanya lembut, transisi antarbagian dilakukan perlahan, dan keseluruhannya menciptakan suasana yang oleh orang Jawa disebut adem atau sejuk. Ini terhubung dengan konsep estetika Jawa tentang alus, kehalusan yang dianggap tanda kedewasaan dan kebangsawanan.

Gamelan Bali lebih cepat, lebih keras, dan lebih dramatis. Transisinya tiba-tiba, aksen ritmisnya tajam, dan suara keseluruhannya lebih padat. Ini sesuai dengan konteks penggunaannya yang banyak untuk mengiringi tari dan drama yang membutuhkan kontras dramatis yang jelas.

Perbedaan teknis yang paling mendasar adalah cara instrumen disetel. Gamelan Bali menggunakan dua instrumen yang disetel sedikit berbeda untuk setiap nada, menghasilkan pelayangan atau getaran akibat perbedaan frekuensi kecil antara keduanya. Getaran ini adalah karakteristik suara gamelan Bali yang paling khas dan sengaja dirancang, berbeda dengan gamelan Jawa yang umumnya menyetel instrumennya lebih konsisten.

Di mana bisa belajar gamelan

Belajar gamelan tidak membutuhkan bakat khusus di awal. Filosofi belajar gamelan tradisional justru menghindari teori di tahap awal: murid baru langsung duduk dan memukul instrumen bersama pemain lain, belajar dengan cara mendengar dan meniru, bukan dari partitur.

Kraton Yogyakarta dan Pura Mangkunegaran di Solo secara reguler menggelar latihan gamelan yang bisa disaksikan publik. Beberapa sesi latihan di Kraton Yogyakarta terbuka untuk peserta luar yang ingin mencoba, terutama untuk tamu dari program pertukaran budaya.

Tembi Rumah Budaya di Sewon, Bantul, sekitar 7 kilometer dari pusat Yogyakarta, menggelar kelas gamelan untuk pemula termasuk wisatawan asing. Sesi satu pertemuan tersedia untuk yang hanya ingin mencoba, dan paket beberapa pertemuan untuk yang ingin belajar lebih serius. Harga per sesi berkisar antara Rp 150.000 sampai Rp 300.000 tergantung jumlah peserta.

ISI Yogyakarta (Institut Seni Indonesia) dan ISI Surakarta adalah dua lembaga pendidikan seni tertinggi di Indonesia untuk gamelan. Keduanya menerima mahasiswa asing dalam program satu semester atau satu tahun. Beberapa departemen juga membuka kelas pendek untuk non-mahasiswa yang ingin belajar secara lebih terstruktur.

Di luar Jawa, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Bandung dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) di beberapa kota memiliki program gamelan. Di luar Indonesia, lebih dari 200 universitas di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia memiliki set gamelan dan mengajarkannya sebagai bagian dari kurikulum etnomusikologi.

Mengapa gamelan tidak bisa dipelajari dari rekaman

Cara gamelan bekerja secara musikal hanya bisa dipahami sepenuhnya dari dalam ansambel. Setiap instrumen memainkan versi berbeda dari melodi yang sama, masing-masing dengan kecepatan, ornamentasi, dan penekanan yang berbeda, dan keseluruhannya menyatu menjadi satu tekstur yang tidak dimiliki satu instrumen pun secara sendirian.

Konsep ini disebut stratifikasi, dan ia adalah prinsip komposisi yang tidak ada padanannya dalam musik orkestra Barat di mana setiap bagian memainkan not yang sudah tertulis secara spesifik. Dalam gamelan, pemain senior memainkan variasi yang lebih bebas dan ornamentiasi yang lebih kompleks dari melodi dasar, sementara pemain junior memegang melodi itu sendiri. Semakin berpengalaman seorang pemain, semakin banyak variasi yang ia tambahkan, dan semakin transparan hubungannya dengan melodi dasar.

Duduk di tengah ansambel gamelan yang sedang bermain adalah pengalaman fisik: getaran gong ageng terasa di tulang rusuk, kendang memberi tekanan di telinga, dan suling melayang di atas semuanya. Rekaman terbaik pun hanya menangkap sebagian kecil dari itu.


Kata kunci: gamelan Jawa, apa itu gamelan, instrumen gamelan, belajar gamelan Yogyakarta, perbedaan gamelan Jawa dan Bali, sejarah gamelan, alat musik gamelan