Tekan tombol ESC untuk menutup

Upacara Sekaten Yogyakarta: Maulid Nabi yang Jadi Pesta Rakyat

Dua set gamelan yang tidak pernah dimainkan di luar upacara ini dikeluarkan dari penyimpanan di Keraton Yogyakarta setiap tahun, dibawa ke Masjid Gedhe, dan dimainkan selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Gamelan itu bukan gamelan biasa. Ia adalah pusaka kerajaan yang disebut Gamelan Sekati dan usianya lebih dari empat abad. Memainkan gamelan ini adalah tindakan ritual, bukan pertunjukan musik.

Sekaten adalah festival tahunan Yogyakarta yang berlangsung setiap bulan Mulud (Rabiul Awal) untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, dan ia adalah perayaan yang menggabungkan ritual keraton, pasar rakyat, dan tradisi yang sudah berlangsung sejak masa Wali Songo.

Asal-usul dari masa Mataram Islam

Sekaten sudah ada sejak masa Kerajaan Demak di abad ke-15 dan ke-16, ketika Wali Songo menggunakan gamelan sebagai daya tarik untuk mengundang masyarakat datang ke masjid dan mendengarkan dakwah. Nama “Sekaten” berasal dari kata syahadatain (dua kalimat syahadat), yang dalam bahasa Jawa terdengar seperti “sekaten”.

Strategi dakwah Wali Songo ini cerdas: gamelan adalah hiburan yang paling disukai masyarakat Jawa saat itu. Dengan memainkan gamelan di masjid selama peringatan Maulid Nabi, mereka menarik orang-orang yang mungkin tidak akan datang hanya untuk mendengarkan ceramah.

Ketika Kerajaan Mataram Islam di Kotagede didirikan pada abad ke-16, Sekaten dilanjutkan. Setelah Mataram terpecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada 1755, kedua kesultanan menyelenggarakan Sekaten masing-masing dengan versi dan tradisinya sendiri.

Gamelan Sekati: pusaka yang hidup

Dua set Gamelan Sekati milik Kesultanan Yogyakarta memiliki nama masing-masing: Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga. Keduanya disimpan di Bangsal Ponconiti di dalam kompleks Keraton Yogyakarta dan hanya dikeluarkan saat Sekaten.

Gamelan ini dimainkan dengan cara yang berbeda dari gamelan pertunjukan biasa. Bunyinya keras, bertubi-tubi, dan terus-menerus tanpa jeda yang panjang. Ini adalah cara memainkan gamelan dalam fungsi ritualnya yang paling awal: sebagai pengundang dan penyambut, bukan sebagai hiburan yang enak didengarkan dari jarak dekat.

Di dalam Masjid Gedhe Kauman yang berdampingan dengan alun-alun Keraton, Gamelan Sekati dimainkan siang dan malam selama tujuh hari berturut-turut. Orang-orang datang bukan hanya untuk mendengarkan tapi untuk “mendatangi” gamelan, sebuah tindakan yang dipercaya membawa berkah.

Pasar Malam Sekaten: dari ritual ke pesta rakyat

Di luar Masjid Gedhe dan Keraton, Sekaten berubah wajah menjadi pasar malam yang berlangsung selama sebulan penuh. Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan Yogyakarta berubah menjadi lautan tenda pedagang, wahana hiburan, dan aneka kuliner.

Sekaten adalah pasar malam terbesar di Yogyakarta. Ribuan pedagang dari berbagai kota datang menjual barang dagangan yang jarang ditemukan di luar musim Sekaten: mainan tradisional kayu, batik murah, geplak (makanan khas Bantul dari kelapa parut), dan berbagai jajanan yang entah mengapa terasa berbeda saat dimakan di Sekaten.

Wahana hiburan yang paling identik dengan Sekaten adalah komidi putar tua dan kuda-kudaan yang wujudnya sudah tidak berubah sejak puluhan tahun lalu. Mereka tidak canggih dan tidak bisa bersaing dengan taman hiburan modern, tapi mereka adalah bagian dari memori kolektif warga Yogyakarta yang sudah mengunjungi Sekaten sejak kecil.

Grebeg Mulud: puncak upacara keraton

Puncak dari rangkaian Sekaten adalah Grebeg Mulud yang diselenggarakan tepat pada hari kelahiran Nabi Muhammad (12 Rabiul Awal). Grebeg adalah prosesi keraton di mana iring-iringan prajurit dan abdi dalem membawa gunungan, yaitu sesaji berbentuk gunung yang terbuat dari nasi, kue, buah, dan hasil bumi lainnya.

Gunungan dibawa dari dalam keraton melewati alun-alun menuju Masjid Gedhe dalam iringan bunyi bedug dan gamelan. Setelah didoakan di masjid, gunungan ini “diperebutkan” oleh masyarakat yang percaya bahwa bagian dari gunungan membawa keberuntungan dan berkah.

Pemandangan gunungan diperebutkan ribuan orang dalam waktu beberapa menit adalah salah satu pemandangan paling ikonik dalam kalender budaya Yogyakarta.

Jadwal Sekaten Yogyakarta

Sekaten berlangsung setiap tahun selama satu bulan pada bulan Mulud dalam kalender Jawa (setara dengan Rabiul Awal dalam kalender Islam). Tanggalnya bergeser setiap tahun dalam kalender Gregorian.

Gamelan Sekati mulai dimainkan di Masjid Gedhe pada malam ke-5 bulan Mulud dan terus berlangsung sampai malam ke-12. Puncak upacara Grebeg Mulud berlangsung pada siang hari tanggal 12 Mulud.

Pasar malam Sekaten mulai beroperasi sejak awal bulan Mulud dan berlangsung sampai beberapa hari setelah Grebeg.

Sekaten di Solo: versi yang sedikit berbeda

Kasunanan Surakarta (Solo) juga menyelenggarakan Sekaten setiap tahun dengan tradisi yang serupa tapi tidak identik. Gamelan Sekati di Solo memiliki nama berbeda dan karakter bunyi yang berbeda. Gunungan Grebeg di Solo juga memiliki bentuk dan komposisi isi yang sedikit berbeda.

Bagi yang tertarik membandingkan, Solo dan Yogyakarta berjarak sekitar satu jam berkendara, dan jadwal Sekaten keduanya biasanya bertepatan karena keduanya mengikuti kalender Islam yang sama.

Makna yang melampaui hiburan

Sekaten yang terlihat hari ini adalah pasar malam yang ramai dengan wahana dan pedagang. Tapi di balik itu ada lapisan yang tidak selalu terlihat: prosesi gamelan yang bermain selama seminggu tanpa henti di samping masjid, Grebeg yang adalah prosesi keraton melanjutkan ritual yang sudah berlangsung sejak Wali Songo, dan kepercayaan bahwa hadir dalam Sekaten dan mendapatkan bagian gunungan membawa berkah nyata.

Tidak semua yang datang ke pasar Sekaten datang dengan kesadaran ini. Tapi sistem makna itu tetap ada di sana, berjalan paralel dengan keramaian pasar, dan memastikan bahwa Sekaten bukan hanya festival tapi ritual yang hidup.


Kata kunci: Sekaten Yogyakarta, Grebeg Mulud Jogja, Gamelan Sekati Keraton, pasar malam Sekaten, festival Maulid Nabi Yogyakarta, tradisi keraton Jogja

Makanan khas Sekaten yang hanya ada setahun sekali

Beberapa makanan di pasar Sekaten diklaim sebagai khas yang sulit ditemukan di luar musim festival.

Geplak adalah kue dari kelapa parut, gula, dan tepung beras yang berwarna-warni. Asalnya dari Bantul tapi selalu hadir di pasar Sekaten. Rasanya sangat manis dengan tekstur yang padat.

Yangko adalah kue mochi versi Yogyakarta, dibuat dari tepung ketan yang kenyal dengan isi kacang tanah. Yangko sudah ada sejak lama di Yogyakarta tapi penjualnya paling banyak berkumpul saat Sekaten.

Jadah manten adalah kue beras ketan yang dibuat khusus dalam konteks pernikahan tapi juga banyak dijual saat Sekaten karena keramaian acara menarik penjual berbagai jenis makanan tradisional.

Wajik dari ketan manis dengan pewarna alami pandan atau gula aren adalah kudapan yang selalu ada di setiap lapak jajanan pasar tradisional Sekaten.

Pasar Sekaten adalah salah satu tempat terbaik untuk menemukan jajanan pasar tradisional Yogyakarta dalam satu lokasi. Ini adalah kesempatan yang tidak selalu tersedia di luar musim Sekaten.

Tips mengunjungi Sekaten

Pasar Sekaten paling meriah pada malam hari, khususnya pada malam-malam akhir pekan. Siang hari lebih sepi dan lebih nyaman untuk menjelajah tapi beberapa penjual baru membuka lapak sore menjelang malam.

Untuk menyaksikan Gamelan Sekati, datangi Masjid Gedhe Kauman pada sore atau malam hari selama tujuh hari masa permainan gamelan. Duduk di luar masjid sambil mendengarkan bunyi gamelan yang keras dan terus-menerus adalah pengalaman yang berbeda dari mendengarkan gamelan dalam pertunjukan biasa.

Untuk Grebeg Mulud, datang pagi hari dan ambil posisi di sepanjang rute prosesi dari keraton ke masjid sebelum pukul 10.00 karena kerumunan akan sangat padat menjelang siang. Jika ingin mencoba mendapatkan bagian gunungan, bersiaplah untuk berdesakan dan tidak terlalu berharap karena gunungan habis dalam hitungan menit.

Parkir di sekitar alun-alun sangat terbatas selama Sekaten. Lebih nyaman datang dengan kendaraan umum atau diturunkan di titik terdekat dan berjalan.

Sekaten sebagai warisan hidup Yogyakarta

Yogyakarta adalah kota yang identitasnya sangat erat dengan Keraton. Tidak seperti banyak kota di Indonesia di mana kerajaan-kerajaan lama tinggal nama dan bangunan, Keraton Yogyakarta masih berfungsi sebagai lembaga yang aktif dalam kehidupan budaya kota.

Sekaten adalah salah satu bukti paling konkret dari keaktifan itu. Gamelan Sekati yang dimainkan setiap tahun bukan museum hidup, bukan rekonstruksi sejarah, tapi tradisi yang benar-benar berlanjut dengan semua lapisan makna yang masih utuh: dari niat dakwah Wali Songo, ke ritual keraton Mataram, ke perayaan rakyat yang menjadi tradisi tahunan jutaan warga.

Dalam satu festival, Yogyakarta merangkum tiga abad sejarahnya sekaligus.

Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga sudah dimainkan setiap tahun selama lebih dari empat abad. Tangan-tangan yang memukul saron dan bonang hari ini bukan tangan yang sama dengan yang memukul empat ratus tahun lalu, tapi bunyi yang keluar masih dimaksudkan untuk hal yang sama: mengundang manusia untuk datang dan ingat bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari urusan sehari-hari yang layak dirayakan bersama.